KDM dan Politik Kepedulian di Tengah Lonjakan Elektabilitas
Pandangan Daddy Palgunadi, Direktur Landskap Publik
Ada satu hal menarik dari perjalanan politik Dedi Mulyadi atau KDM belakangan ini. Ketika angka survei mulai menempatkannya di posisi yang semakin tinggi, ia justru tidak terlihat mengambil jarak dari masyarakat.
Dalam survei SMRC, KDM berada di posisi teratas dengan elektabilitas 35 persen. Angka ini bahkan mengungguli Prabowo Subianto yang berada di kisaran 15 persen.
Bagi seorang politisi, angka seperti itu tentu menggoda. Popularitas yang tinggi sering kali membuat seorang tokoh mulai berhitung lebih hati-hati, menjaga citra, mengurangi aktivitas yang berisiko dan lebih banyak bekerja dari balik meja.
Tetapi KDM mengambil jalan berbeda.
Ia tetap turun ke lapangan. Salah satunya ketika datang ke Nusa Tenggara Timur untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana. Kehadiran itu menjadi penting bukan semata karena nilai bantuan yang diberikan, tetapi karena publik melihat seorang pemimpin hadir langsung ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.
Menurut saya, inilah salah satu kekuatan politik KDM.
Ia tidak terlalu sibuk menjelaskan dirinya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Ia lebih sering menunjukkan kedekatan itu melalui tindakan.
Dalam politik, perbedaan antara claim dan proof sangat penting. Seorang tokoh bisa mengatakan dirinya peduli kepada rakyat. Namun masyarakat akan lebih percaya ketika kepedulian itu terlihat dalam tindakan nyata.
KDM memahami ruang tersebut.
Karena itu, kenaikan elektabilitas seharusnya tidak membuatnya jerih, apalagi sungkan untuk terus bergerak. Sebaliknya, angka 35 persen harus dibaca sebagai tanggung jawab baru.
Semakin tinggi popularitas, semakin tinggi pula ekspektasi masyarakat.
KDM juga perlu menyadari bahwa popularitas bukan sesuatu yang otomatis berubah menjadi dukungan politik. Survei hanya memotret persepsi masyarakat pada satu titik waktu. Dukungan itu harus terus dirawat melalui kinerja, komunikasi dan konsistensi.
Di sinilah aksi kemanusiaan seperti di NTT memiliki makna politik yang lebih luas.
Saya tidak melihatnya semata sebagai kegiatan yang berkaitan dengan elektabilitas. Justru ketika seorang pemimpin mampu membantu masyarakat tanpa melihat batas wilayah politik, ia sedang membangun sesuatu yang lebih penting: reputasi sebagai pemimpin yang memiliki kepedulian sosial.
Reputasi seperti ini membutuhkan waktu untuk dibangun, tetapi bisa runtuh dengan cepat jika tidak dijaga.
Karena itu, KDM sebaiknya tidak terjebak pada euforia angka survei. Jangan merasa sudah menang sebelum pertarungan dimulai. Jangan pula mengubah gaya kerja hanya karena popularitas sedang tinggi.
Pertahankan pola yang selama ini membuat masyarakat mengenalnya.
Datang ketika masyarakat membutuhkan. Mendengar persoalan mereka. Menyelesaikan persoalan yang mampu diselesaikan pemerintah. Dan tetap menunjukkan keberpihakan kepada kelompok yang membutuhkan perhatian.
Jika konsistensi itu terus terjaga, popularitas KDM bukan hanya menjadi angka dalam survei.
Ia bisa berubah menjadi modal kepercayaan.
Dan dalam politik, kepercayaan publik jauh lebih sulit dibangun daripada popularitas.
Survei bisa berubah setiap bulan. Persepsi publik bisa bergerak setiap saat. Tetapi pemimpin yang terus hadir, bekerja dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan posisinya.
KDM sedang berada pada momentum yang kuat.
Tantangannya sekarang bukan bagaimana menjadi semakin terkenal.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar popularitas tersebut tidak terputus dari kerja nyata.
Sebab politik pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling dikenal.
Politik adalah tentang siapa yang tetap diingat ketika masyarakat membutuhkan seorang pemimpin.
















