Kaesang Dinilai Lakukan ‘Migrasi Simbol Kandang’, Publik Jateng Disebut Langsung Tangkap Pesannya
Jakarta – Penggunaan istilah “kandang gajah” oleh Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep dinilai sebagai bentuk migrasi simbol politik yang disengaja. Langkah ini dianggap efektif karena memanfaatkan memori politik masyarakat, khususnya di Jawa Tengah, yang sejak lama akrab dengan istilah “kandang” dalam peta kekuasaan elektoral.
Pengamat geo-strategic politik dan elektoral Daddy Palgunadi menyebut, masyarakat Jawa Tengah tidak hanya mengenal istilah “kandang”, tetapi juga memahami evolusi maknanya.
“Di Jawa Tengah, ‘kandang’ itu sudah menjadi semacam kode politik. Kaesang tidak membuang kode itu, tapi memindahkan isinya. Ini yang saya sebut migrasi simbol kandang,” kata Daddy kepada wartawan, Senin (11/1/2026).
Menurut Daddy, selama ini publik mengenal “kandang banteng” sebagai simbol basis ideologis PDI Perjuangan. Namun dengan hadirnya istilah “kandang gajah”, terjadi pergeseran fauna politik yang membawa pesan baru tentang arah dan pusat kekuasaan.
“Banteng itu simbol perlawanan dan militansi. Gajah melambangkan kekuasaan besar, tenang, dan menguasai struktur. Ini bukan sekadar ganti istilah, tapi perubahan karakter kekuasaan,” ujarnya.
Daddy menilai, strategi ini bekerja karena Kaesang mempertahankan bentuk bahasa lama, tetapi mengisinya dengan makna baru. Alhasil, publik Jawa Tengah langsung menangkap pesannya tanpa perlu penjelasan panjang.
“Ini bukan tabrakan simbol, tapi reframing habitat politik. Arena kandangnya sama, tapi ekosistemnya berubah,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut juga relevan dengan pemilih muda yang semakin menjauh dari konflik ideologis klasik. Istilah “kandang gajah” dianggap ringan, satir, dan mudah menyebar di ruang digital.
“Ini politik rasa, bukan politik amarah. Terlihat bercanda, tapi sebenarnya mengirim sinyal keras,” kata Daddy.
Lebih jauh, Daddy melihat istilah tersebut sebagai bagian dari reposisi pusat gravitasi kekuasaan nasional pasca-2024. Menurutnya, Kaesang sedang menandai bahwa habitat politik lama mulai ditinggalkan, digantikan oleh formasi kekuasaan yang lebih cair dan pragmatis.
“Bagi publik Jawa Tengah yang sangat sensitif terhadap simbol, ini adalah penanda zaman. Faunanya berubah, kandangnya tetap,” pungkas Daddy.




















