Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Kelompencapir Coffee Morning KP2MI

133
×

Kelompencapir Coffee Morning KP2MI

Sebarkan artikel ini
Direktur Eksekutif Migrant Watch, Aznil Tan (Foto Istimewa).
Example 468x60

Oleh: Aznil Tan
Direktur Eksekutif Migrant Watch

Politikindo – Ada yang lucu ketika saya menerima undangan Coffee Morning KP2MI pada tanggal 30 Oktober 2025.

Example 300x600

Dalam surat undangan itu tertulis dengan rapi: peserta diharapkan hadir tepat waktu, dan—yang paling menarik—“menyiapkan pertanyaan, masukan, maupun rekomendasi” sebelum acara dimulai.

Bahkan panitia mengingatkan agar semua itu dikirim paling lambat pukul 13.00 siang sehari sebelumnya.

Mungkin, dia kira saya bangga bisa bertemu menteri.

Mungkin mereka kira saya ini tim hore yang datang ke acara coffee morning untuk bertepuk tangan setiap kali beliau bicara tentang “tata kelola,” sambil menyesap cappuccino.

Padahal, saya datang hanya karena rasa penasaran—bagaimana aroma kopi bisa menutupi bau lama dari mental birokrasi yang masih percaya bahwa dialog harus diskenariokan lebih dulu.

Sungguh ironis: undangan resmi untuk “menjaring masukan” justru datang dengan syarat bahwa semua pertanyaan dan rekomendasi harus dikirim sebelum acara.
Itu bukan forum partisipatif; itu gladi resik pikiran.

Saya jadi ingat masa kecil dulu, ketika Kelompencapir tampil di TVRI. Para petani tersenyum sambil menghafal teks, pura-pura bertanya kepada pejabat tentang pupuk dan panen, sementara semua jawaban sudah disiapkan di amplop cokelat.

Kini, puluhan tahun kemudian, versi digitalnya lahir kembali—di coffee shop ber-AC, dengan jargon “migrasi aman, legal, dan bermartabat.”
Bedanya cuma satu: yang dulu di sawah, sekarang di Gade Coffee & Gold.

Migrant Watch Bukan Pendukung Sistem Sesat

Dia kira saya datang untuk mendukung kebijakan bodohnya—yang masih menempatkan pekerja migran sebagai objek belas kasihan, bukan subjek kekuatan ekonomi bangsa.

Dia kira saya senang ketika birokrat berbicara soal “sistem terintegrasi,” padahal di lapangan, sistem itu hanya menambah satu lapisan baru dari kerumitan tanpa solusi.

Mereka masih berpikir cara lama: bahwa rapat adalah segalanya, dan dokumen adalah bukti kerja.
Bahwa setiap orang yang hadir di forum harus tampil sopan, tunduk, dan bersuara sesuai naskah.

Saya bukan dari jenis itu. Saya tidak menyiapkan pertanyaan untuk dikirim sebelum acara—karena ide tidak lahir dari perintah WhatsApp.
Apalagi jika pesan resminya berbunyi:

“Mohon dikirimkan pertanyaan, masukan, atau rekomendasi sebelum pukul 13.00 hari ini.”

Rasanya seperti disuruh berpikir sesuai tenggat administrasi.

Mereka mungkin lupa: bangsa ini tidak butuh lebih banyak forum kopi, tapi butuh keberanian menyeduh realitas.
Pekerja migran kita tidak punya waktu untuk bermain peran di coffee morning.
Mereka sedang berjibaku di negeri orang, sementara kita di sini masih sibuk menyusun pertanyaan yang “aman untuk dibacakan.”

Jadi, jika ada yang menyangka saya bisa dikondisikan hadir untuk memuji menteri—biarlah dia terus berkhayal.

Saya datang bukan untuk menjadi bagian dari paduan suara birokrasi.

Sebenarnya, saya berniat hadir hanya untuk memastikan bahwa di tengah denting cangkir dan tawa basa-basi, masih ada satu suara yang tak ikut menyanyikan lagu lama.

Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk tidak jadi datang.

Karena buat apa hadir di forum yang sudah tahu semua jawabannya sebelum pertanyaan pun diajukan?

Sementara itu, jutaan Pekerja Migran Indonesia di negeri seberang sedang menunggu langkah nyata yang bisa saya lakukan.

Dan saya tahu, itu jauh lebih berarti daripada hadir di acara penuh basa-basi dan cium tangan kebijakan.

Lebih baik saya bersama mereka yang bekerja dalam senyap, daripada bersama mereka yang sibuk memoles citra di balik secangkir kopi. (red)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *