Jakarta, Politikindo – Kritik terhadap pengelolaan lingkungan kembali mengemuka. Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa), Adi Kurniawan, menyoroti kerusakan hutan yang disebutnya semakin parah selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)—lulusan Fakultas Kehutanan UGM yang selama ini kerap dielu-elukan publik.
Adi tak menahan kata-kata ketika menyinggung bencana besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera baru-baru ini.
“Sepuluh tahun dipimpin Jokowi yang katanya lulusan kehutanan, tapi hutan kita malah botak. Dan sekarang kita lihat sendiri akibatnya—bencana di Sumatera terjadi di mana-mana,” tegas Adi.
Menurut Adi, kejadian banjir bandang, longsor, dan kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari pola kebijakan masa lalu yang dinilainya abai terhadap kelestarian hutan. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus berani melakukan evaluasi menyeluruh agar tragedi serupa tidak terulang.
BACA: Citra Satelit Bongkar Deforestasi Brutal di Sumut, Walhi: Jangan Kambinghitamkan Cuaca!
“Ini bukan sekadar fenomena alam. Ketika hutan rusak, air tidak punya tempat ditahan. Itu sebabnya rakyat di Sumatera sekarang harus menanggung dampaknya,” ucapnya.
Adi menekankan bahwa kritik BaraNusa bukan untuk mencari musuh politik, tetapi untuk mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Kalau akar masalahnya tidak dibereskan, bencana hanya menunggu giliran. Jangan sampai negara ini sibuk membangun citra, tapi tutup mata pada kenyataan di lapangan,” lanjut Adi.
BaraNusa mendesak pemerintahan saat ini bergerak cepat melakukan pemulihan ekosistem, memperketat izin pemanfaatan hutan, dan menghentikan praktik perusakan yang merugikan rakyat luas.
Adi menutup dengan nada tegas:
“Jangan tunggu lebih banyak korban. Hutan yang botak adalah alarm bahaya. Bencana Sumatera adalah peringatan keras bagi kita semua.” (red).

















