Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
InternasionalTeknologi

Denny Siregar: Tiongkok Cuci Otak Positif Rakyatnya Lewat Media Sosial

221
×

Denny Siregar: Tiongkok Cuci Otak Positif Rakyatnya Lewat Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Republik Rakyat China (Foto Istimewa).
Example 468x60

Jakarta, Politikindo – Pegiat media sosial Denny Siregar menyoroti keseriusan pemerintah China dalam mengatur dunia media sosial. Menurutnya, negeri Tirai Bambu itu sangat memahami bahwa arah masa depan sebuah negara akan banyak ditentukan oleh isi dan arus informasi di media sosial.

“Pemerintah China itu concern banget sama media sosial. Mereka paham, media sosial bakal menentukan ke mana arah negara nantinya. Kalau isinya buruk, maka ke depan negaranya juga akan buruk,” ujar Denny dikutip dari postingannya di Beranda Facebook, Senin (27/10).

Example 300x600

Denny menilai langkah China mengontrol ruang digitalnya bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi lebih ke arah pertahanan bangsa. Pemerintah China, katanya, memperlakukan media sosial sebagai alat pembentukan karakter nasional dan penjagaan ideologi generasi mudanya.

BACA JUGA: Indonesia Buka Peluang Kerja Sama dengan India Garap Program Makan Bergizi Gratis

Cuci Otak Positif

Lebih jauh, Denny menjelaskan, media sosial di China dijadikan alat untuk apa yang ia sebut sebagai “cuci otak positif”. “Media sosial buat China itu cara mereka mencuci otak rakyatnya, terutama generasi muda. Tapi cuci otaknya positif. Yang tampil di media sosial harus yang sifatnya inspiratif dan membangun,” jelasnya.

Menurut Denny, pemerintah China bahkan menyesuaikan algoritma media sosial agar konten positif lebih dominan, sementara influencer atau pembuat konten diwajibkan memiliki sertifikasi agar tidak sembarangan bicara tanpa dasar keilmuan.

“Warga boleh cari uang di media sosial, tapi tidak boleh memberikan pengaruh buruk pada publik. Itu aturan mainnya,” tambahnya.
Indonesia Masih Pandang Media Sosial Sebagai Ekonomi

Denny kemudian membandingkan dengan kondisi di Indonesia yang menurutnya masih menganggap media sosial hanya sebagai faktor ekonomi, bukan pertahanan nasional.

“Kita ini masih melihat media sosial cuma urusan cari uang, bukan soal pertahanan. Padahal, media sosial itu berhubungan langsung dengan otak manusia, dengan cara berpikir masyarakat,” tegasnya.

Ia mengingatkan, perang modern tidak lagi selalu menggunakan senjata atau nuklir, tetapi bisa dilakukan lewat serangan budaya dan informasi yang merusak mental generasi muda.

“Kalau mau menghancurkan negara lain, nggak perlu pakai nuklir. Rusak saja generasi mudanya lewat media sosial, selesai,” pungkas Denny.

Pandangan Denny ini menegaskan betapa strategisnya peran media sosial dalam membentuk arah bangsa. Bukan hanya ruang ekspresi, tapi juga arena pertarungan nilai dan ideologi yang harus dikelola dengan cerdas. (red).

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *