Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaNasional

Mobil Nasional Prabowo: Antara Ambisi Kemandirian dan Bayang-Bayang Politik Industri

186
×

Mobil Nasional Prabowo: Antara Ambisi Kemandirian dan Bayang-Bayang Politik Industri

Sebarkan artikel ini
Mobil i2C Mobil Nasional Impian Prersiden Prabowo (Foto Istimewa).
Example 468x60

Jakarta, Politikindo — Rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk membangun industri mobil nasional kian terkuak. Langkah ini bukan lagi sekadar wacana kampanye, melainkan sudah bergerak menjadi proyek konkret di bawah naungan Teknologi Militer Indonesia (TMI), perusahaan yang berafiliasi dengan Yayasan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

TMI pada pameran otomotif Juli 2025 memperkenalkan purwarupa SUV listrik bernama i2C (Indigenous Indonesian Car) — proyek yang diklaim sebagai bentuk nyata dari visi Presiden Prabowo untuk menciptakan mobil asli Indonesia.

Example 300x600

“Kita tidak pernah punya industri otomotif yang mandiri. Jadi sesuai visi beliau, beliau ingin ini menjadi kenyataan,” ujar Harsusanto, Presiden dan CEO TMI, saat peluncuran purwarupa tersebut.

Mobil Garuda: Simbol Kemandirian atau Sekadar Romantisme Nasionalisme?

Secara desain, proyek i2C tak hanya menonjolkan aspek teknologi. Budi Wurasqito, penasihat desain TMI, menjelaskan bahwa mobil ini mengusung elemen ikonik Burung Garuda serta motif batik sebagai representasi identitas seni nusantara.

Pendekatan simbolik ini memperkuat pesan nasionalisme dalam industri otomotif. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan:
Apakah proyek ini akan menjadi tonggak kebangkitan teknologi nasional, atau justru mengulang pola romantisme simbolik tanpa keberlanjutan industri, seperti yang pernah terjadi pada proyek-proyek “mobil nasional” di masa lalu?

BACA JUGA: Presiden Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

Ambisi Besar: Produksi Massal 2028, Harga di Bawah Rp500 Juta

Proyek i2C diklaim telah berjalan kurang dari setahun dan ditargetkan memasuki tahap produksi massal pada 2028, dengan kisaran harga di bawah Rp500 juta.
Target ini sejalan dengan ambisi Prabowo yang ingin membangun industri otomotif mandiri dalam tiga tahun masa pemerintahannya.

Namun, tantangan di lapangan tidak kecil. Industri otomotif nasional saat ini masih bergantung pada rantai pasok asing, baik untuk komponen, baterai, maupun sistem digitalisasi kendaraan. Tanpa investasi besar dan transfer teknologi yang serius, proyek i2C bisa saja terjebak menjadi mobil berlabel lokal dengan isi impor.

Bayangan Politik di Balik Kap Mesin

Keterlibatan Yayasan Kemenhan melalui TMI memberi warna politik yang kental pada proyek ini. Dengan latar Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan, langkah ini dibaca oleh sebagian pengamat sebagai strategi memperluas pengaruh ekonomi negara melalui institusi pertahanan.

Jika proyek ini berhasil, Prabowo bukan hanya akan dikenang sebagai presiden yang membangun mobil nasional, tetapi juga pencipta simbol kemandirian teknologi dan industri strategis Indonesia. Namun jika gagal, i2C bisa menjadi beban politik baru lambang ambisi besar tanpa pijakan industri yang matang.

Antara Mimpi dan Mesin

Proyek i2C menggoda karena ia menawarkan harapan: bahwa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara industri maju. Tapi sejarah mengajarkan, nasionalisme teknologi tanpa fondasi ekonomi akan runtuh di jalan yang sama — penuh retorika, minim produksi.

Kini, semua tergantung pada keberanian pemerintah untuk menjawab satu pertanyaan mendasar:
Apakah mobil nasional ini akan menjadi simbol kemandirian bangsa, atau sekadar kendaraan politik menuju kejayaan simbolik kekuasaan? (red)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *