Jakarta, Politikindo – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution kembali menjadi sorotan. Sejak awal masa jabatannya, Bobby tak lepas dari polemik, mulai dari isu blok Medan, sengketa empat pulau di Aceh, kasus korupsi pembangunan jalan, hingga masalah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah.
Banjir bandang kali ini diduga akibat kegagalan pemerintah provinsi menjaga hutan tetap hijau. Penebangan liar yang tidak terkontrol membuat hutan Sumut “botak”, sehingga aliran air tak tertahan dan menimbulkan bencana.
“Sudah saatnya rakyat Sumut bersatu mendesak Bobby Nasution mundur sebagai gubernur. Jangan menunggu Sumut hancur lebur,” tegas Sekretaris Jenderal Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa) Luthfi Zainul Arifin kepada wartawan.
BACA: HEBOH! Banjir di Sumut Bawa “Hutan Gratis”, Gubsu Bobby Cuma Bisa Janji Cek Kayu
Warga dan berbagai elemen masyarakat kini menuntut tindakan tegas untuk menertibkan pengelolaan hutan dan memastikan penyelenggara pemerintahan bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan sebaliknya.
Sebelumnya, Warga Sumatera Utara (Sumut) dibuat tercengang! Banjir bandang tak hanya merendam rumah, tapi juga mengalirkan gelondongan kayu bak “hutan mini” di arus deras. Video viral di media sosial langsung menuai komentar pedas: siapa yang menebang hutan sampai bencana makin parah?
Gubernur Bobby Nasution angkat bicara. “Ya nanti kita lihat ya (soal banyaknya gelondongan kayu),” kata Bobby santai di Lanud Soewondo Medan, Kamis (27/11). Netizen pun bereaksi: “Cuma lihat? Kalau dibiarkan, besok bukan banjir, tapi hutan mengapung!”
Sementara itu, Bobby menegaskan pemerintah fokus evakuasi warga dan pengiriman logistik. Namun, banyak warganet menilai itu hanya solusi darurat, sementara pelaku illegal logging seolah lolos dari sorotan.
Fenomena kayu gelondongan ini terekam dari Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga, memunculkan pertanyaan keras: apakah bencana di Sumut hanya urusan hujan deras atau akibat ulah manusia yang rakus?
Satu hal pasti, warga tetap bertanya: kalau hutan terus ditebang sembarangan, siapa yang mau tanggung jawab saat “hutan mengapung” berikutnya? (red).

















