Jakarta, Politik — Manuver Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, kembali menghangatkan suhu politik jelang perombakan kabinet. Usulan Bahlil kepada Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk koalisi permanen Kabinet Merah Putih langsung menuai tafsir politik berlapis. Banyak yang membaca langkah ini sebagai sinyal ketidaknyamanan dan kekhawatiran Bahlil terhadap wacana reshuffle yang terus berembus.
Dalam beberapa pekan terakhir, nama Bahlil memang santer disebut-sebut sebagai menteri yang berpotensi terdepak dari jajaran kabinet.
“Lagi Cari Perhatian Prabowo”
Founder Citra Institute, Yusak Farchan, menilai manuver koalisi permanen hanyalah cara Bahlil untuk memastikan dirinya dan Golkar tetap berada di jantung kekuasaan.
“Bahlil sedang cari perhatian Presiden Prabowo bahwa Golkar menjadi partai terdepan dalam mengawal pemerintahan saat ini,” kata Yusak, Kamis (11/12).
Yusak memandang bahwa momentum pernyataan Bahlil yang disampaikan saat puncak HUT ke-61 Golkar bukanlah kebetulan. Menurutnya, Bahlil sedang menempatkan diri sebagai aktor paling loyal di hadapan Presiden Prabowo, terutama di tengah sorotan publik terhadap kinerja Kementerian ESDM.
BACA JUGA: BaraNusa Desak Kapolri Buka Nama Aktor Besar Pembalak Liar Hutan di Sumatera
Kinerja ESDM Lagi Sorotan, Timing Bahlil Dianggap Janggal
Yusak menggarisbawahi bahwa manuver ini muncul di saat kritis, ketika beberapa kebijakan ESDM belakangan ini mendapat perhatian publik dan nama Bahlil beberapa kali disebut dalam spekulasi reshuffle.
“Bahlil sedang mencoba membangun bargaining baru agar saham politik Golkar di pemerintahan terlihat paling besar dan paling dekat dengan Presiden Prabowo,” jelas Yusak, Magister Ilmu Politik UNAS.
Bargaining Golkar Ditinggikan, Loyalitas Diumbar
Bagi Yusak, inti dari gerakan politik Bahlil bukan sekadar menjaga posisi pribadi, melainkan juga menaikkan nilai tawar Golkar dalam orbit kekuasaan.
“Ini strategi agar Golkar dipandang sebagai sekutu paling loyal dan paling siap mengamankan agenda pemerintahan,” ujarnya.
Publik Masih Menunggu Sikap Prabowo
Di tengah ramainya manuver koalisi permanen ini, bola panas kini berada di tangan Presiden Prabowo. Publik menunggu apakah Presiden akan menganggap langkah Bahlil sebagai bentuk solidaritas politik atau justru sebagai strategi penyelamatan diri menjelang reshuffle.
Politikindo akan terus mengikuti perkembangannya. (red).

















