Jakarta, Politikindo – Perang baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melawan narkoba di kawasan Laut Karibia kian memanas. Kapal perang dan jet tempur AS kini beroperasi agresif di wilayah tersebut, bahkan menewaskan lebih dari 40 orang dalam sebulan terakhir.
Ketegangan meningkat tajam setelah kapal perang USS Gravely merapat ke Trinidad dan Tobago pada akhir pekan lalu untuk melakukan latihan militer bersama pasukan setempat. Langkah itu langsung memicu kemarahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang menuding operasi tersebut sebagai bentuk provokasi militer.
“Venezuela mengecam provokasi militer Trinidad dan Tobago yang berkoordinasi dengan CIA. Ini bertujuan memprovokasi perang di Karibia,” kata Maduro seperti dikutip AFP, Senin (27/10).
BACA JUGA: Dua Pesawat Militer AS Jatuh di Laut China Selatan
Trump Tuding Maduro di Balik Kartel Narkoba
Trump sebelumnya menuding Venezuela sebagai pusat jaringan narkoba internasional yang mengancam AS. Ia bahkan menuduh langsung Presiden Maduro memiliki hubungan dengan kartel narkoba Amerika Latin.
Sebagai respons, AS mengerahkan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, ke perairan Karibia, sekaligus mengizinkan operasi rahasia CIA di wilayah tersebut. Pentagon mengklaim langkah itu bagian dari “operasi antinarkoba berskala global”, namun Venezuela menilai tindakan AS sebagai pelanggaran kedaulatan dan provokasi perang.
Rakyat Karibia Cemas Jadi Korban
Kehadiran armada tempur AS di perairan dekat Venezuela membuat warga Trinidad dan Tobago hidup dalam kecemasan. Negara kecil berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa itu kini berada di tengah pusaran konflik dua kekuatan besar.
“Kalau perang pecah, kami yang di pinggirannya bisa kena getahnya kapan saja,” ujar Daniel Holder (64), warga lokal yang khawatir negaranya terseret konflik.
Seorang warga lain, Victor Rojas (38), yang merupakan keturunan Venezuela, mengaku takut keluarganya jadi korban jika bentrokan benar-benar terjadi.
“Venezuela sekarang tidak dalam posisi menghadapi serangan. Ekonominya hancur, rakyatnya menderita,” katanya.
Situasi makin memanas setelah dua warga Trinidad dilaporkan tewas dalam serangan udara AS terhadap kapal nelayan Venezuela pada pertengahan Oktober lalu. Keluarga korban bersikeras mereka hanyalah nelayan biasa, bukan pengedar narkoba seperti yang dituduhkan. Namun hingga kini, otoritas setempat belum memberikan konfirmasi resmi.
Bayangan Konflik Baru di Karibia
Langkah agresif AS ini menandai babak baru ketegangan geopolitik di Laut Karibia. Dengan dalih perang melawan narkoba, Washington kembali memperkuat pengaruh militernya di kawasan yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakang” Amerika Serikat.
Sementara Venezuela menegaskan siap mempertahankan kedaulatannya dan menyebut tindakan AS sebagai agresi terselubung yang dapat mengguncang stabilitas kawasan.
Ketegangan antara Trump dan Maduro pun diprediksi akan berlanjut, menimbulkan bayangan konflik terbuka di Karibia — di tengah dunia yang sudah dipenuhi ketidakpastian. (red).



















